Kamis, 05 Maret 2015

[RESUME] Pengorganisasian BK (Peran Guru dalam Kegiatan di Sekolah)

Pengorganisasian BK
(Peran Guru dalam Kegiatan di Sekolah)

        Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di berbagai jenjang sekolah/ pendidikan. Pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling di berbagai jenjang pendidikan tidaklah sama yang menyebabkan pengorganisasan BK di sekolah juga berbeda. Berikut disajikan pelaksanaan bimbingan konseling.
1.      Taman Kanak-Kanak
Kebutuhan pengembangan diri konseli di Taman Kanak-Kanak nyaris sepenuhnya ditangani oleh guru yang sesuai dengan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya, menggunakan spektrum karakteristik perkembangan konseli sebagai konteks permainan yang memasilitasi perkembangan kepribadian konseli secara utuh. Namun begitu, konselor juga dapat berperan serta secara produktif di jenjang TK sebagai konselor kunjung yang diangkat pada tiap sekolah untuk membantu guru dala menyusun program bimbingan terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku mengganggu anak sesuai keperluan, yang salah satu pendekatannya adalah Direct Behavioral Consultation.

2.      Sekolah Dasar
Sampai saat ini di sekolah dasar tidak ada posisi struktural bagi konselor. Namun sesuai dengan umur dari konseli dengan tingkat perkembangan konseli, kebutuhan akan pelayanan bukannya tidak ada, melainkan konselor berperan langsung secara produktif di jenjang sekolah dasar walaupun tidak seperti pada sekolah menengah. Konselor dapat berperan serta aktif sebagai konselor kunjung yang diangkat pada setiap gugus sekolah dan koselor juga dapat membantu guru dalam mengatasi perilaku mengganggu sesuai keerluan.

3.      Sekolah Menengah
Pelayanan bimbingan dan konseling di jenjang sekolah menengah merupakan setting yang paling subur bagi konselor karena di jenjang ini konselor dapat berperan secara maksimal dalam memfasilitasi konseli mengaktualisasi potensi yang dimilikinya secara optimal. Konselor berperan untuk membantu peserta didik dalam menumbuh kembangkan potensinya. Salah satu potensi yang seyogyanya berkembang pada diri konseli adalah kemandirian, seperti kemampuan mengambil keputusan penting dalam perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan pendidikan maupun persiapan karir. Dalam melaksanakan program bk sudah seharusnya konseli bekerja sama dengan berbagai pihak terkait seperti kepala sekolah, guru mata pelajaran, orang tua konseli. Selain itu pula dapat bekerja sama dengan ahli lainnya seperti dokter, psikolog dan psikiater. Guru harus dapat berperan sebagai konselor yang mengkokohkan pilihan dan pengembangan karir sejalan dengan bidang konseli yang menjadi pilihannya. Bimbingan karir dan bimbingan vocasional harus berlangsung secara sinergis, untuk itu diperlukan kolaborasi produktif antara konselor dengan guru bidang studinya/mata pelajaran/mata pelajaran keahliannya.

Dalam pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah menengah terdapat pengorganisasian BK sebagai berikut:
a.       Kepala Sekolah
Kepala sekolah berfungsi sebagai administrator dan supervisor. Sebagai administrator, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan seluruh program sekolah, khususnya program layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang dipimpinnya. Karena posisinya yang sentral, kepala sekolah adalah orang yang paling berpengaruh dalam pengembangan atau peningkatan pelayanan bimbingan dan konseling disekolahnya. Sebagai supervisor, kepala sekolah bertanggung jawab dalam melaksanakan program-program penilaian, penelitian dan perbaikan atau peningkatan layanan bimbingan dan konseling. Ia membantu mengembangkankebijakan dan prosedur-prosedur bagi pelaksanaan program bimbingan dankonseling di sekolahnya.
b.      Wakil Kepala Sekolah
Peran wakil kepala sekolah dalam BK adalah melaksanakan kebijakan kepala sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling. Melaksanakan bimbingan dan konseling minimal 75 siswa bagi yang bberlatar belakang BK, membantu guru mata pembimbing melaksnakan tugas-tugasnya khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, membantu guru mata pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan BK, membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya, berparsipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
c.       Koordinator Bimbingan Konseling
Koordinator BK memiliki tugas untuk:
1.    Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konselingkepada segenap warga sekolah orang tua dan masyarakat.
2.    Menyusun program kegiatan bimbingan dan konseling.
3.    Melaksanakan program bimbingan dan konseling.
4.    Mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dnkonseling.
5.    Menilai hasil pelaksanaan program kegiatan bimbingankonseling.
6.    Menganalisis hasil penilaian pelaksanaan bimbingan dankonseling.
7.    Memberikan tindak lanjut terhadap analisis penilaianbimbingan dan konseling.
8.    Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagiterpenuhinya tenaga, prasarana dan sarana alat dan perlengkapanpelayanan bimbingan dan konseling.
d.       Guru Pembimbing
Sebagai pelaksana utama, tenaga ahli dan inti, guru pembimbing bertugas:
1.      Memasyarakat pelayanan bimbingan dan konseling
2.      Merencanakan program bimbingan dan konseling (terutama program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung, untuk satuan-satuan waktu tertentu, program-program tersebut dikemas dalam program-program dalam jangka waktu tertentu
e.       Guru Mata Pelajaran
Di sekolah, tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi siswanya. Dalam konteks organisasi layanan Bimbingan dan Konseling, di sekolah, peran dan konstribusi guru sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah:
1. Membantu konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.
2. Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada konselor.
4. Menerima siswa alih tangan dari konselor, yaitu siswa yang menuntut konselor memerlukan pelayanan khusus, seperti pengajaran/latihan perbaikan, dan program pengayaan.
5. Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan gurusiswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.
6.  Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
7. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.
8. Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.
f.       Wali Kelas
Wali kelas sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling mempuyai peranan :
a.       Membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya,khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawab nya.
b.      Membantu guru mata pelajaran melaksanakan peranannya dalampelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
c.       Membantu memberikan dan kemudahan bagi siswa, khususnya dikelas yang menjadi tangung jawabnya, untuk mengikuti/menjalanikegiatan bimbingan dan konseling.
d.      Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dankonseling seperti konferensi kasus.
e.       Mengalih tangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingandan konseling kepada guru pembimbing.


Daftar Pustaka

·         Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdikbud.
·         https://febroeldefila.files.wordpress.com/2012/04/peranan-guru-dalam-bimbingan-konseling-sekolah.pdf
·         http://nintyasintya.blogspot.com/2013/10/makalah-program-organisasi-dan.html

Kamis, 26 Februari 2015

[RESUME] Jenis-Jenis Layanan Bimbingan Konseling

          Program bimbingan dan konseling mengandung empat komponen pelayanan, yaitu: (1) Pelayanan dasar bimbingan; (2) Pelayanan responsif; (3) Perencanaan individual; (4) dukungan sistem.
1.      Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar dapat diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.

Tujuan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tujuan pelayanan ini dirumuskan sebagai:
a)      Memiliki kesadaran tentang diri dan lingkungannya.
b)      Mampu mengembangkan keterampilan untuk identifikasi tanggung jawab.
c)      Mampu menangani atau memenuhi kebutuhn dan masalahnya.
d)     Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

2.      Pelayanan Responsif
Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Tujuan pelayanan responsif adalah membantu konseli agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan asalah yang dialaminya atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan konseli. Masalah dan kebutuhan konseli berkaitan dengan keinginan untuk memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara positif. Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.

3.      Perencanaan Individual
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli untuk erumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan masa depannya. Disini konselor memberikan batuan dengan menuntunkonseli memahami dirinya sendiri baik itu kelebihannya maupun kekurangannya untuk memperoleh kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli tentang seorang individu tersebut diperlukan secara mendalam. Karena setiap individu itu unik dan berbeda sehingga peluang dan potensi dirinya dapat secara maksimal dikembangkan.

Tujuan perencanaan individual ini adalah untuk:
1.       Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.
2.  Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
3.  Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.

Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.
Fokus pengembangan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir dan sosial-pribadi. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain mencakup:
1.     Akademik: memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat.
2.  Karir: mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif.
3.   Sosial-pribadi: pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.

4.      Dukungan Sistem
Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja  dan infrastruktur serta pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantun kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan sosial.

Dukungan sistem ini meliputi aspek:
a.       Pengembangan Jaringan
Pengembangan jaringan menyangkut kegiatan konselor yang meliputi konsultasi dengan guru-guru, menyenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, bekerjasama dengan personel sekolah, dan melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling.
b. Kegiatan menagemen merupakan upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan pengembangan program, staff, sumber daya dan penataan kebijakan. Hal itu bisa dilakukan dengan pengembangan profesionalitas, konsultasi dan kolaborasi serta managemen program.
c.       Riset dan pengembangan
Kegiatan riset dan pengembangan merupakan aktivitas konselor yang berhubungan dengan pengembangan profesional secara berkelanjutan, meliputi: (a) merancang, melaksanakan dan memanfaatkan penelitian dalam bimbingan dan konseling untuk meningkatkan koalitas layanan bimbingan dan konseling, sebagai sumber data bagi kepentingan kebijakan sekolah dan implementasi proses pembelajaran, serta pengembangan program bagi peningkatan unjuk kerja profesional konselor; (2) merancang, melaksanakan dan mengevaluasi aktivitas pengembangan diri konselor profesional sesuai dengan standar kompetensi konselor; (3) mengembangkan kesadaran komitmen terhadap etika profesional; dan (4) berperan aktif di dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling.

Kamis, 19 Februari 2015

[RESUME] Pengertian, Prinsip, Asas dan Fungsi Bimbingan Konseling



            Bimbingan konseling berasal dari dua kata yang berbeda. Jika dilihat dari asal usul katanya tersebut, bimbingan konseling dapat diartikan secara terpisah. Asal kata yang pertama adalah bimbingan. Miller (dalam Jones, 1987) mendefinisikan bimbingan sebagai:
            “Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahan diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”.
            Berdasarkan pasal 27 peraturan pemerintah No.29/1990 bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya penemuan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. (Depdikbud: 1994)
            Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. (Prayitno, Erman Amti 2004:99).
            Dari ketiga pengertian bimbingan diatas dapat diketahui bahwa bimbingan merupakan suatu bantuan yang dilakukan kepada seorang atau sekelompok orang untuk mengetahui potensi dirinya sendiri secara maksimum untuk mencapai suatu tujuan yang maksimal di masa depan.
            Kemudian asal kata yang kedua adalah konseling. Konseling menurut mortensen (dalam Jones, 1987) didefinisikan sebagai proses tatap muka empat mata dimana satu orang membantu orang lainnya untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman terhadap suatu masalah.
            Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dimana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajr. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekaran dan kemungkinan keadaannya dimasa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Yobert, dalam Prayitno 2004:101)
            Dari kedua pengertian tersebut dapat dilihat bahwa bimbingan dan konseling memiliki arti atau makna yang mirip namun tetap memiliki perbedaan. Dalam konseling diharuskan adanya tatap muka antara konselor dan konseli. Namun dalam tujuannya, secara selintas memang konseling tidak memiliki perbedaan dengan bimbingan. Mengingat keterkaitan bimbingan dan konseling, maka dalam kehidupan sehari-hari bimbingan dan konseling merupakan dua kata yang sering dijumpai penggunaannya secara bersamaan.
            Bimbingan konseling pada pelaksaannya tidak hanya diselenggarakan begitu saja, namun berdasarkan prinsip-prinsip yang dipandang sebagai fondasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan dan konseling ini. Prinsip-prinsip itu meliputi:

1.   Preventif dan Kuratif

Bimbingan konseling diselenggarakan dan dilaksanakan kepada semua orang, baik itu yang bermasalah sebagai tindakan kuratif maupun yang tidak bermasalah sebagai tindakan preventif.

2.      Prinsip Individuasi
Setiap orang memiliki sifat yang unik dan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Sehingga melalui bimbingan konseling individu dibantu untuk mengembangkan keunikannya.

3.      Prinsip Positif
Bimbingan konseling yang dilaksanakan menekankan pada hal yang positif. Berdasarkan pengertian yang sudah dibahas, bimbingan maupun konseling memiliki tujuan yang jelas, yaitu mengoptimalkan dan mengembangkan kemampuan suatu individu untuk mencapai tujuannya secara maksimal. Maka dari itu bimbingan konseling harus menekankan individu untuk memiliki pandangan yang positif dan memberikan dorongan dan peluang untuk berkembang secara positif.

4.      Bimbingan konseling merupakan usaha bersama. Bimbingan konseling bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Setiap individu memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan satu sama lain, dengan demikian setiap orang wajib memberikan bimbingan dan konseling terhadap orang lain dilingkungan manapun. Dalam artian bukan hanya disekolah tapi juga di lingkungan keluarga, kantor maupun lingkungan teman sepergaulan.

5.      Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli memilih dan mengambil keputusan. Namun dalam pengambilan keputusan tetap diserahkan sepenuhnya kepada konseli.

Dalam penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah hendaknya harus mengacu pada asas-asas bimbingan konseling yang berlaku, yaitu:
1.      Asas kerahasiaan
Banyak orang yang beranggapan bahwa masalah merupakan suatu aib yang tidak boleh seorangpun tau dan harus ditutup-tutupi, namun dalam bimbingan konseling masalah itu harus diungkapkan agar konselor dapat memberikan saran untuk konseli. Maka dari itu konselor harus dapat menjaga rahasia dari apa yang dikonsultasikan oleh konseli.
2.      Asas Kesukarelaan
Pada saat pelaksanaan bimbingan konseling, konseli tidak dipaksa untuk menyampaikan masalahnya.
3.      Asas Keterbukaan
Keterbukaan dalam bimbingan konseling bukan hanya dapat menceritakan dan menyampaikan pendapat secara terbuka, tetapi juga dengan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan suatu masalah yang dimaksud.
4.      Asas kekinian
Yaitu asas yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan masa depan atau masa lampau dilihat dampak atau kaitannya dengan kondisi yang ada sekarang.
5.      Asas Kemandirian
Konselor harus menekankan untuk selalu berusaha menghidupkan kemandirian pada diri orang yang dibimbing, heendaknya orang yang dibimbing tidak jadi bergantung pada orang lain khususnya pembimbing.
6.      Asas Kegiatan
Asas yang menghendaki agar konseli berpartisipasi secara aktif dalam penyelenggaraan kegiatan bimbingan.
7.      Asas Kedinamisan
Upaya bimbingan konseling menhendaki terjadinya perubahan ke arah yang lebih positif. Perubahan tidaklah sekedar mengulang-ulang hal lama yang bersifat monoton melainkan perubahan ke arah yang lebih baik.
8.      Asas Keterpaduan
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa setiap individu itu unik dan memilki banyak segi dalam kehidupannya. Untuk itu setiap proses pelayanan harus terpadu dari berbagai aspek yang terkait agar tidakn menimbulkan masalah baru.
9.      Asas Keharmonisan
Yaitu asas yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan dengan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
10.  Asas Keahlian
Orang yang menjadi konselor hendaknya memiliki kualifikasi keahlian sebagai konselor secara profesional.
11.  Asas Alih Tangan Kasus
Asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan konseling secara cepat dan tuntas atas suatu permasalahan mengalih tangankan permasalahan pada orang yang lebih ahli.

           Bimbingan konseling ada karena memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan sehari-hari yang erat kaitannya dengan prinsip dan asas yang telah dijelaskan, diantaranya:
1.    Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu misalkan pemahaman diri sendiri dan pemahaman tentang lingkungan sekitar.
2.    Fungsi Pencegahan, yaitu fungsi bimbingan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya konseli dari masalahg yang mungkin timbul yang dapat mengganggu, menghambat atau menimbulkan kesulitan di masa mendatang.
3.   Fungsi Penuntasan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh konseli.
4.    Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi yang akan mengahsilkan terpeliharanya dan terkembangnya berbagai potensi dan kondisi positif konseli dalam rangka penyelenggaraan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.




Daftar Pustaka
 
  • Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdikbud.
  • Jones, J.J. 1987. Secondary School Administration. New York: Mc Graw Hill Book Company
  • Prayitno, Erman Anti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta: Rineka Cipta

Minggu, 20 Oktober 2013

10, 15, 14, 20

Aku, masih mengingat bagaimana bulan menyapaku malam ini. Bulat, meski tidak bundar sempurna. Terang, meski bukan cerah sempurna. Indah, meski bukan bulan sempurna, malam ini.